Gambar Ilustrasi
Tidak seperti biasanya, saya iseng main ke pusat percetakan di senen.
Sekitar jam 22.00 WIB saya berangkat dari kosan. Ternyata memang pada
malam hari, banyak pegawai-pegawai percetakan disana yang meluangkan
waktunya untuk sekedar kongkow menghilangkan penat setelah seharian
mereka bekerja. Rata-rata dari mereka lebih tua dari saya, bahkan ada
kakek yang berumur 64 tahun ikut nimbrung. Kami berkumpul di ruko kecil
yang dindingnya terbuat dari kayu tipis dan atap yang sudah mulai
keropos dengan lantai sekedar beralaskan tikar sederhana di temani
suasana dingin nya hujan pada malam itu. Meskipun nampak sangat
sederhana dan alakadarnya, tidak mengurangi kehangatan suasana
perbincangan kami.
Ada 4 orang yang bergabung dalam
obrolan itu, diantaranya ada mas Bidin (pegawai percetakan), pak Faisal
(pemilik usaha neon box), pak Yayan (perantara sewa ruko di kawasan
senen), dan saya sendiri. Mas Bidin orangnya sangat santun dan ramah,
saya sudah cukup lama mengenalnya bahkan sering membantu pekerjaan saya
jika saya sedikit kualahaan. Kemudian pak Faisal adalah pengusaha neon
box yang dahulu sempat menjadi "raja neon box" di Jakarta, mungkin
berumur sekitar 45 tahunan. Yang terakhir adalah pak Yayan, kakek yang
menurutnya sudah berumur 64 tahun. Hanya mas Bidin yang sudah cukup lama
saya kenal, untuk pak Faisal dan pak Yayan kebetulan saya baru
mengenalnya.
Obrolan awal yang mendominasi pembicaraan
adalah pak Faisal, beliau menceritakan jatuh bangun dalam berwirausaha.
Dari masa kejayaanya di tahun 90an sampai usahanya jatuh ketika dampak
krisis moneter di 98 dan benar-benaar gulung tikar di tahun 2000 karena
beberapa faktor lainya. Beliau awalnya adalah seorang tamatan SMA yang
berasal dari keluarga sederhana. Semenjak lulus SMA, ia mulai bekerja di
toko milik pamanya di daerah mangga besar. Namun hanya bertahan setahun
saja. Pak Faisal memutuskan untuk membuka usaha neon box dengan hanya
bermodal karyawan 1 orang dan memiiki beberapa kawan yang menjadi
pengusaha las. "Saya dari awal tidak punya apa-apa dek, cuma modal ingin
maju dan mensejahterakan keluarga. Orang setiap hari kerjaan saya
mencari bangunan baru untuk menawarkan neon box. Dari awalnya saya cuma 1
orang karyawan sampai akhirnya memiliki 100 orang karyawan." ungkapnya.
Namun sayangnya, usaha beliau sekarang telah gulung tikar, yang saya
kagumi dari dirinya adalah semangat untuk bangkit meskipun sekarang
dalam kondisi terpuruk. Sekarang pak Faisal sedang merintis kembali
usaha neon box nya, beberapa ungkapan lain yang saya ingat adalah
"intinya orang usaha itu sabar aja dek, yang penting tetep usaha, rejeki
semua sudah ada yang ngatur asalkan jangan berhenti usaha".
Nampaknya
beliau bisa saya jadikan navigator saya dalam menjalani bisnis. Sangat
mengagumkan kerja kerasnya terlepas dari kegagalan dalam berwirausaha.
Kemudian
ada pak Yayan (64), seorang kakek tua yang gemar meminum arak. Awalnya
saya agak meragukan beliau dikarenakan kebiasaanya yang saya rasa
kurang etis. Tapi tunggu dulu, saya ingat perkataan teman saya "Kalo mau
jadi pemimpin jangan membatasi pergaulan, jangan mengikuti arus dan
jangan melawan arus. Tapi kendalikan arusnya". Yah... saya sangat
sepakat dengan penuturan kawan saya itu. Saya mencoba untuk tidak
membatasi pergaulan saya, karena pada hakikatnya kita belajar dengan
siapa saja dan dimana saja. Lantas, pembelajaran apa yang bisa saya
ambil dari seorang pak Yayan ini?. Saya ikuti alur pembicaraanya,
awalnya beliau membicarakan tentang filsafat. Sedikit kaget dan
bertanya-tanya mengapa beliau begitu paham mengenai filsafat. Karena
tidak ingin mengganggu ia berbicara saya hanya mendengarkanya saja.
"Kebenaran mutlak itu ngga ada, kebenaran mutlak itu hanya milik Allah"
tuturnya. Saya sedikit ragu ungkapanya benar-benar di resapi atau
sekedar ngablu karena pengaruh arak. Tapi yasudahlah.. mari mendengar
kembali.
Karena bahasan filsafat sangat panjang dan
tidak mungkin saya tuliskan semua disini, saya lanjut membahas obrolan
kedua yaitu tentang retorika. Beliau bercerita semasa muda yang gemar
berdebat, yang pada intinya banyak orang pintar tapi keseleo karena
tidak bisa retorika. Dirinya mengakui bahwa tidak terlalu banyak wawasan
di bandingkan dengan kawan yang lainya. Tetapi karena ia bisa
beretorika dengan baik, maka di anggap memiliki wawasan yang luas dan
tidak kalah saing dengan kawan-kawan yang lainya. "Kalo kamu ahli di
bidang ekonomi, dan sedang berdebat dengan orang ahli hukum, jangan
pernah terbawa pembicaraan ke ranah hukum yang terlalu jauh. Batasi
pembicaraanya, kamu ambil kendalinya dan kembalikan ke ranah ilmu yang
kamu ketahui. Itu salah satu teknik retorika". Tidak saya sangka
awalnya, mengingat dari penampilan dan kebiasaan beliau yang terkesan
(mohon maaf) bisa dibilang "urakan".
Pak Yayan selalu
menuturkan bahwa jangan pernah melihat seseorang dari sekelebatan mata
saja. Pahamilah orang yang baru anda kenal, baru dapat menyimpulkan.
Beliau juga tidak menganjurkan saya mengikuti jejaknya yang hobi meminum
arak. Saya ingat, berkali-kali beliau mengingatkan saya untuk tidak
mengikuti kebiasaan buruknya.
Penyesalan memang datang
di akhir, begitu juga yang di alami pak Yayan. Pada tahun sekitar
1980an, pak Yayan memiliki 15 ruko yang masing-masing waktu itu di jual
dengan harga Rp.7.000.000,00. Namun sayangnya 15 rukonya sudah habis
terjual. Saya pun bertanya, "Untuk apa pak itu ruko dijual semua?".
Singkat cerita, 15 ruko yang dimiliki oleh pak Yayan adalah warisan dari
orang tuanya. Karena kebiasaanya bermain judi dia rela menjual rukonya
untuk mengikuti judi yang marak pada waktu itu. Satu per satu rukonya di
jual untuk bermain judi, yang akhirnya sudah habis tak tersisa di tahun
2013. Beliau sangat menyesalkan karena akhirnya tidak memiliki apa-apa
pada masa tuanya. Terlebih lagi, ruko yang ia jual beberapa puluh tahun
yang lalu harga sewa pertahunnya sekarang Rp.25.000.000,00. Jumlahkan
saja nominal 25.000.00,00 x 15 ruko = Rp.375.000.000,00. Artinya jika
Pak Yayan mempertahankan rukonya sampai sekarang, pendapatan Pak Yayan
per tahun senilai Rp.375.000.000,00 atau Rp.31.000.000,00 per bulan.
Memang
sangat di sayangkan. Tetapi semua sudah berlalu dan tidak akan kembali
dengan sekejap mata. Ada bijaknya jika kita sebagai kaum muda dapat
memetik pembelajaran dari orang lain tanpa harus mengalaminya.
Point-point yang dapat saya ambil sebagai pembelajaran dari mereka adalah Pak Faisal si pekerja keras yang dapat di jadikan teladan bagi saya. Semangat yang dimilikinya tidak diragukan, terlebih mental bajanya yang tidak pernah lelah untuk bangkit dari keterpurukanya. Pak Yayan, kakek berusia 64 tahun ini ternyata memiliki segudang pembelajaran. Tetapi yang paling penting adalah, JANGAN PERNAH MERAGUKAN ORANG LAIN KARENA PENILAIAN SINGKAT DAN MENILAI DARI PENAMPILAN LUARNYA SAJA. Hal tersebut yang harus saya tanamkan dalam kehidupan saya menjalani kehidupan sosial.
Hal lainya adalah, jangan pernah menyia-nyiakan
apa yang kita punya sekarang, maksimalkan apa yang ada. Karena insya
Allah orang yang sukses dari segi apapun adalah orang yang dapat memulai
dari apa yang ia miliki.
Semoga dapat menjadi bahan inspirasi dari pengalaman saya di atas, dan dapat bermanfaat untuk teman-teman pembaca.

Nice kawan,
BalasHapussangat menginspirasi hidup :)
Thanks ran.. ditunggu ceritamu :)
BalasHapus