Senin, 25 Februari 2013

Pemimpin

Apa penjabaran tentang pemimpin? dan bagaimana karakter yang wajib di miliki seorang pemimpin?
Lebih luasnya saya ingin share disini.

Beberapa menyatakan definisi pemimpin sebagai berikut :

1. Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya Pemimpin Dalam Kepimpinan Pendidikan (1999)
Menyatakan pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah mencapai matlamat yang ditetapkan.

2. Miftha Thoha dalam bukunya Prilaku Organisasi (1983 : 255)
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.

3. Kartini Kartono (1994 . 33)
Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kclebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Itu tadi menurut para ahlinya ya bro, kalau menurut pandangan saya pemimpin adalah orang yang memiliki visi tertentu dan memiliki semangat juang yang tinggi sehingga mampu menyalurkan energi kepada orang sekitar untuk mencapai tujuannya. (Danar Wisnu Tungga Dewa) 

Visi itu penting, mengapa? karena visi adalah tujuan sorang pemimpin membawa subkoordinatnya akan di bawa ke arah mana. Tidak mungkin apabila seorang pemimpin berjalan membawa pengikutnya tanpa ke arah dan tujuan yang jelas.
Kemudian semangat juang yang tinggi, artinya pemimpin sudah selayaknya memiliki semangat juang yang tinggi, sebab dialah penggerak atau sebagai motor orang yang di pimpinya. Mampu mendorong dari belakang, memposisikan dirinya di tengah dengan membaur satu dan yang lain, serta berada di depan untuk memberikan arahan dan siap menanggung resiko-resiko yang akan datang.

Jika melihat pada keseharian kita di kantor, organisasi, maupun di kelompok-kelompok lainya ada yang di sebut dengan "pimpinan". Pertanyaanya adalah, apakah sama antara pemimpin dan pimpinan? sedangkan keduanya seolah samar sehingga kita mengansumsikanya sama.

Sedikit saya bercerita, sore itu saya sedang mengisi acara launching sebuah produk motor dari pabrikan ternama di Indonesia. Saya melihat seorang pimpinan EO yang teriak sana-sini memberikan perintah pada crew acara. Terlihat dari wajah para crew tersirat wajah yang kesal dan penuh keterpaksaan menjalankan perintah dari pimpinan EO tersebut. Tidak lama setelah acara berlangsung saya melihat para crew sedang bersantai sembari menikmati kopi untuk memanfaatkan waktu istirahatnya, saya seketika menghampiri dan ingin mengobrol dengan mereka. Namun belum sampai saya membuka obrolan, saya duduk dan malah terdiam (muncul rasa tidak enak mengganggu diskusi mereka).Ternyata mereka sedang bergosip ria membicarakan atasanya tadi (pemimpin EO) yang selalu memerintah se enaknya tanpa memberikan arahan yang jelas. "kalo sampe ada yang salah, saya yang di salahin. padahal jelas-jelas dia yang merintahin. engga lagi saya ikut orang kaya begituan. cuma sakit hati yang ada" tutur salah seorang crew.

Naah.. cerita tersebut, apakah pimpinan EO di atas masuk dalam kriteria seorang pemimpin? apakah betul dia juga sebenar-benarnya memiliki pengaruh?

Kalau di lihat dari cerita di atas, si pimpinan EO sangat jauh dari definisi real seorang pemimpin. Apa yang ia instruksikan kepada bawahanya, dan bawahanya menjalankan perintahnya tidak lain dan tidak lebih karena unsur keterpaksaan. Sedangkan seorang pemimpin yang sesuai dari definisi di atas adalah yang berpengaruh dan semangat juang tinggi sehingga para pengikutnya tergerak (tanpa paksaan) menjalankan dengan suka rela apa yang di instruksikan pemimpinya. Ia mampu memberikan contoh dan selalu solutif bukan malah melempar pertanggung jawaban kepada bawahanya. Secara singkat ada perbedaan  antara pemimpin dan pimpinan, seorang pemimpin “do what i do” sedangkan seorang pimpinan adalah “do what i say”.


Pimpinan biasanya identik dengan NATO “not action talk only”, sedangkan pemimpin NOTA “not only talk but act ! “. langkah yang nyata serta tidak sekedar retorika, tetapi mampu mengimplementasikan ide dan perkataanya.

Berikut beberapa karakter yang selayaknya di miliki oleh pemimpin :

1.Visioner, memiliki tujuan yang jelas, sehingga dalam setiap langkah dan keputusanya bisa di perhitungkan    agar tepat tidak dari tujuan awal. Pemimpin harus tau terlebih dahulu mau di bawa ke arah mana organisasinya.

2.Tanggung Jawab, pemimpin harus menerima segala sesuatu ancaman atau resiko yang akan datang, baik kesalahan dari dirinya sendiri ataupun pengikutnya.Sebab ia sebagai orang paling depan dan pemegang kendali atas kelompoknya.

3.Solutif, mampu memberikan solusi ketika terjadi kebuntuan atau kesalahan yang di perbuat bawahan atau yang sedang terjadi pada organisasinya.

4.Motivator, pendongkrak semangat dan obat penawar yang mujarat ketika kelompoknya mengalami pesimisme akan tujuan utama.

5.Militan, militan bukan berarti yang pandai berkelahi, tapi lebih tepatnya adalah militan secara pendiriannya yang tidak mudah di goyah meskipun mengalami tekanan yang berat.

Point-point  di atas hanya sedikit contoh karakter bagi seorang pemimpin. Banyak hal yang sebenarnya harus dimiliki apabila kita bicara soal pemimpin.

"Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu mendorong orang-orang yang di pimpinnya untuk melakukan hal-hal yang besar"
Pimpinlah dirimu sendiri sebelum memimpin orang lain, pimpinlah akal dan hatimu terlebih dahulu, kemudian melangkahlah dengan logika, dan jalani dengan hati nurani.

Kamis, 14 Februari 2013

Inggit dan Soekarno


Inggit Garnasih dilahirkan di Desa Kemasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 17 Februari 1888 di tengah keluarga sederhana, dari seorang anak petani bernama Ardjipan dan ibunya bernama Asmi. Mempunyai dua orang saudara, Natadisastra dan Murtasih. Masa kecilnya di lewati dengan riang sebagai anak yang disukai oleh sebayanya. Parasnya ayu salah satu sebab mengapa banyak orang yang mengaguminya.
Namun di usia sangat belia, 12 tahun , pada tahun 1990, Inggit sudah harus memulai kehidupan rumah tangga dengan Kopral Residen Belanda, Nata Atmadja. Bahtera rumah tangganya tidak berlangsung lama, hanya empat tahun, akhirnya mereka bercerai. Selang beberapa waktu, Inggit menikah lagi dengan Sanusi, seorang pedagang masanya dan terlibat dalam organisasi Sarekat Islam yang ketika itu sedang popular sebagai organisasi masa islam awal periode pergerakan. Ketika kongres pertama Sarekat Islam di Bandung pada tahun 1916, Inggit telah terlibat sebagai panitia, yang secara langsung memberinya ruang untuk membaca situasi sosial politik pada saat itu.
Di lihat dari segi pendidikan formal, Inggit hanya mencicipi tingkat pendidikan paling buntut , Madrasah Ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar) . Pada saat itu, akhir abad ke-19, pendidikan setingkat itu sudah cukup memadai, apa lagi bagi perempuan pribumi di tengah diskriminasi sosial. Pengalaman membuat Inggit mempunyai pribadi yang matang dan karakter yang kuat. Sosok Inggit seperti itu sudah mulai terbentuk sejarah mempertemukan Inggit dengan Soekarno dan memilih untuk hidup bersama dalam bahtera rumah tangga pada 24 Maret 1923.
Tanpa mengurangi peran para perempuan (lain) dalam hidup soekarno , nampaknya Inggit Garnasihlah yang berada dalam posisi penting tersebut. Kematangan dan kedewasaan serta pencapaian intelektual seseorang pada umumnya dicapai pada usia 40-an tahun, termasuk manusia yang bernama Soekarno. Selama proses pencapaian itu , separuhnya ia jalani bersama dengan Inggit Garnasih.
Sejarah umat manusia membuktikan bahwa antara perempuan dan  kekuasaan memang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Segudang cerita tentang tokoh perempuan yang berperan dalam perjuangan suaminya begitu besar kendati jasanya ada di balik layar dan terkadang hilang di telan jaman.
Salah satu dari sekian banyak perempuan yang telah menorehkan sejarah bagi bangsa Indonesia di masanya, tetapi namanya tak lekang oleh waktu adalah Inggit Garnasih. Inggit sejatinya merupakan perempuan yang turut mengharumkan nama bangsa Indonesia. Posisinya sebagai istri Soekarno ( istri kedua setelah Oetari ), menjadi sumber inspirasi pejuangan dalam kancah politik. S.I Poeradisastra dalam pengantarnya pada buku Ku Antar ke Gerbang Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Sukarno karya Ramadhan K.H., mengatakan bahwa separuh daripada semua prestasi Sukarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih dalam ‘bank jasa nasionalisme Indonesia’.
Pengorbanan dan pengabdian di berikan dengan tulus oleh Inggit. Hampir duapuluh tahun  dia menjalani kehidupan bersama soekarno yang tak lepas dari masa tahanan dan pelarian. Sejak 1929, Inggit harus menerima kenyataan pahit dengan di tangkap dan di penjarakannya Sukarno. Keadaan itu tidak sekali terjadi. Pada tahun 1933, kurang lebih setelah dua tahun dibebaskan dari Sukamiskin, Sukarno kembali ditangkap.
Sebuah pukulan berat harus di terima oleh Inggit karena Sukarno kemudian di buang ke Ende. Makin berat perjuangan Inggit pada saat itu. Ternyata di pulau asing itu pun dia harus bergiat ‘mengayun tangan’ . Hal ini di karenakan Sukarno belum mempunyai pekerjaan tetap. Inggit terus berjuang mendampingi Sukarno bersama kedua anak angkatnya Ratna Juami dan Kartika. Inggit merawat Sukarno di kala sakit malaria, hingga ia sendiri kehilangan ibu yang dicintainya, Ibu Asmi.
Perjuangan Sukarno melawan penyakit malaria demikian parah menyebabkan dia di pindahkan ke Bengkulu. Dikota yang masih lengang ini Inggit kembali berjumpa dengan kesukaran. Tidak lama setelah berhijrah ke tempat ini, Jepang mendarat di Indonesia dan memasuki kota Bengkulu. Kondisi ini menyebabkan kehidupan Sukarno dan keluarga makin sulit. Didalam otobiografinya, Sukarno mengungkapkan bagaimana susahnya dalam pelarian dari Bengkulu hingga padang. Pada saat genting yang semacam ini, Inggitlah perempuan yang paling menguatkannya.
Di kala kesedihan yang di arungi bersama mulai reda, Sukarno mendambakan yang lain, dia mempunyai keinginan untuk mempunyai seorang anak. Sebuah keinginan yang memukul hati Inggit, mengapa baru dikatakan keinginan itu setelah umurnya 53 tahun, bukan sewaktu dibandung ataupun di Ende. Keinginan yang manusiawi, tetapi menjadi bara api yang membakar bahtera rumah tangga.
Tidak disangka, Sukarno telah menyimpan hati untuk Fatmawati yang tidak lain juga anak angkatnya sewaktu di Bengkulu. Kondisi makin memanas sewaktu Sukarno meminta menikah dengan Fatma, demikian panggilan akrab gadis manis ini. Dengan tegas inggit mengucapkan, “Itu mah pamali, ari di candung mah cadu” (itu pantang, kalau dimadu pantang). Ucapan itu mengakhiri segalanya karena Sukarno tetap akan menikah dengan Fatmawati.
Itulah Inggit. Dia berbeda dengan istri Sukarno lainnya. Kesedihan dan kesengsaraan yang di arungi bersama selama hampir 20 tahun tidak di rasakan buahnya saat Sukarno mencapai gemilang. Dalam babak akhir rumah tangganya dengan Sukarno, dia mengatakan dalam bahasa yang dalam, “Sesungguhnya aku harus senang pula karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga.
Cinta yang tumbuh didada Sukarno tak dapat di tahan. Setelah Inggit kembali ke Bandung dan resmi bercerai, Sukarno kemudian menikah dengan Fatmawati. Tepat pada Juli 1943, ikrar sudah di ucapkan. Pernikahan di lakukan dengan nikah wakil karena Fatma masih berada di Bengkulu. Karena keadaan belum memungkinkan bagi Sukarno untuk menjemputnya.
Sebulan setelah perkawinan, Fatma di boyong ke Jawa dan berkumpul bahagia dengan keluarga Sukarno di Jawa Timur. Tepatnya 22 Agustus 1943. Bertempat di Jalan Pengangsaan  Timur No. 56, dirayakannya sebuah pesta pernikahan di tengah keluarga dan teman. Setahun setelah perkawinannya dengan Fatmawati , suasana kegembiraan menyelimuti hati Sukarno. Fatma hamil, itu artinya keinginannya untuk mempunyai keturunan segera terkabul. Beberapa bulan kemudian lahirlah putra pertama. Bayi laki-laki itu di beri nama Guntur Sukarnoputra. Di tahun-tahun berikutnya Fatma  kembali melahirkan, masing-masing : Megawati, Sukmawati, Rahmawati, dan yang terkecil adalah Guruh Sukarnoputra.
Akan tetapi tidak lama, kebahagiaan yang di rasakan oleh Fatma  harus hilang dari gengaman. Kembali Sukarno jatuh cinta. Sukarno dengan nada memohon, agar Fatma mengizinkannya menikah lagi. Tidak ada alasan yang diberikan sebagaimana dulu terang-terangan di kemukakan kepada Inggit. Tapi sekarang berbeda Sukarno adalah seorang presiden nomor satu di Negara RI, bukan lagi seorang buangan.
Nampak jelas bahwa kecantikan perempuan adalah senjata yang membunuh Sukarno. Hati Sukarno sudah menjelajahi wanita-wanita cantik lain yang dinikahi selang satu sampai tiga tahun saja. Sebutlah Hartini, Dewi, Kartini, Haryati, Yurike, dan Heldy. Entah karena alasan apa, mungkin hanya karena ia adalah pencinta wanita. Sesederhana itu. Mereka ratu-ratu di hati Sukarno yang mendapat kedudukan yang istimewa dengan harta yang melimpah.
Berbeda dengan Inggit, dia hanya mendapatkan rasa pahit, sedangkan manisnya tidak didapatkan sama sekali. Sukarno pernah merasakan betapa berharganya Inggit dalam hidupnya. Dengan kata romantis , dia mengungkapkan bahwa Inggit Srikandi baginya. Seorang perempuan penuh sembada, penuh kesetiaan, dan pantang menyerah tatkala kemiskinan dan kekurangan menghadang. Inggit tetap menikmati hidup sebagai orang kecil. Karena kesederhanaannya itu, Inggit mampu hidup bersahaja dan penuh syukur. Dengan berjualan bedak, meramu jamu, dan menjahit mampu hidup layak sebagaimana perempuan pada umumnya.
Cinta Inggitpun tidak usang dimakan waktu. Inggit mencintai Koesno (Sukarno) dengan sepenuh jiwa dan segenap hati. Kendatipun telah berpisah, rasa cinta dan kasih sayang masih tertanam di lubuk hatinya. Foto Sukarno masih tertempel di kamar. Hal itu menjadi perlambang bahwa Inggit masih menyimpan kenangan bersamanya. Dia member tanpa meminta, dia memberi tanpa pamrih. Kecintaannya kepada Sukarno membuatnya berani menghadapi tantangan kehidupan yang tidak manis. Bahkan ia mampu memenuhi kebutuhan  Sukarno dan keluarganya dengan tangan sendiri waktu dulu. Dengan dalam Inggit mengucapkan “Sebagai istri, Inggit tidak mau seperti kucing, diberi makan lantas tidur. Kita mesti bekerja. Jadi tentang urusan rumah tangga jangan jadi pikiran Kusno. Inggit bisa cari uang bikin pakaian dan jual kain.
Lama tidak bersua, sang pujaan yang telah menjadi nomor satu di Indonesia datang bertandang seolah membawa sejuta kenangan yang sudah lama hilang. Pada pertemuannya yang pertama Sukarno berkata dengan lembut kepada inggit. Perkataan itu mengandung permintaan maaf yang dalam atas kesalahan yang membuat Inggit sakit hati. Inggit hanya menanggapinya dengan ringan dan berucap, “Tidak usah diminta Ngkus, sudah lama Nggit maafkan Ngkus. Ngkus pimpinlah Negara dan rakyat dengan baik, seperti cita-cita kita dulu.
Pada tahun 1960, Sukarno kembali menginjak kaki di Bandung untuk mengunjungi Inggit. Kala itu Inggit sedang sakit. Lama Sukarno memandangi Inggit yang kala itu sedang berusia 72 tahun. Sukarno dan Inggit berpelukan, tenggelam dalam keharuan. Pelan-pelan Sukarno menanyakan., “Sakit apa Nyai ?”, Inggit menjawab “ Biasa Ngkus, penyakit rakyat”. Mendengar jawaban itu Sukarno terdiam, jawaban itu mengandung makna yang luas, walaupun sebenarnya Sukarno tahu sakitnya Inggit karena kekurangan vitamin.
Tidak disangka pertemuan pada tahun 1960 menjadi pertemuan yang terakhir. Sepuluh tahun kemudian, pada 21 Juni 1970, Sukarno berpulang kepangkuan Illahi. Ketika melihat jenazah Sukarno terbaring didalam peti, terdengar suara lembut dan sayu mengucapkan “Ngkus, geuning Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun…
Sehari setelah Sukarno dimakamkan di Blitar, berdatanglah orang-orang kerumah  Inggit untuk menyatakan bela sungkawa. Salah seorang wartawan misalnya menanyakan,  Apa yang Ibu terima dari harta pusaka peninggalan Bapak?”, Inggit menjawab “Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat , dan keturunan bangsa kita ?”. Sejenak wartawan itu terdiam, kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Yang saya maksudkan harta pusaka untuk Ibu pribadi?” Inggit menjawab kembali, “Kenangan yang tak terlupakan, yang ibu simpan di dalam hati, yang akan menemani ibu masuk kedalam kubur.”
Akhirnya pada tanggal 13 April 1984, setelah terdengar azan magrib Inggit Garnasih meninggal dunia. Sekedar tanda kenangan , pada masa Presiden Sukarno,  Inggit menerima penganugerahan tanda Kehormatan “Setyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan” pada tanggal 17 Agustus 1971. Kemudian setelah wafatnya, dimasa presiden Soeharto, berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia, No: 073/TK/Tahun 1997, tertanggal 11 Agustus 1997, pemerintah menganugerahkan tanda Kehormatan “Bintang Mahaputra Utama” yang penyerahan dilaksanakan pada 10 November 1997 di Istana Negara.
Nama Inggit Garnasih memang seolah hilang dari sejarah. Akan tetapi kalau kita mau jujur pada sejarah terlihat jelas bahwa Inggit sangat menaruh perhatian yang besar kepada kesayangannya, Sukarno, yang bisa dipanggil Kusno. Inggit menyediakan sarapan tiap pagi, menjahitkan baju dikala sobek, memijit dikala sakit, dan memberi kasih sayang sepenuh jiwa ketika kerinduan dan datangnya cinta dari seorang perempuan  dirindukan Sukarno.
Dalam urusan cinta umur bukan menjadi penghalang. Kesetiaan yang diberikan oleh perempuan usia tigapuluhan kepada pemuda yang umurnya masih kepala duapuluh meninggalkan sejarah menarik. Ibarat Muhammad dengan Khadijah, mereka adalah teladan jalinan cinta abadi yang tidak memandang umur. Dengan keluhuran budinya, Inggit mampu mengantarkan dan mewujudkan orang yang dicintai kegerbang harapan.

"Semoga menginspirasi di hari kasih-sayang ini (bagi yg merayakan)."

Sumber  : http://lotus-trysnie.blogspot.com/2012/11/intisari-biografi-inggit-garnasih.html